40 hari telah berlalu

Kemarin Minggu, 25 November 2012 adalah 40 hari setelah kepergian ayah untuk berada disisiNya yang lebih baik. Seperti umat muslim pada umumnya, kami sekeluarga berkumpul untuk bertahlil dan mendoakan beliau, seraya mengenang kepergian beliau. Semoga amal ibadah beliau diterima disisiNya. #Ammiin

Pagi hari

Aku bergegas bangun dan bersiap untuk mengunjungi makam ayah. Terakhir aku berkunjung adalah tujuh hari setelah kepergiannya. Aku tidak sendiri mengunjunginya, ada Ibu, Kakak pertama, Kakak ketiga & Istri. Kenapa kakak kedua tidak ikut? Dia selalu ikut carFreeDay setiap minggu. Maklum sedang tergila-gila dengan sepeda Fixie.

Gambar

Ibu, Aku, Mas icat

Hari ini cuaca mendung sepanjang hari, sempat gerimis kecil dan berhenti lagi. Alhamdulilah saat acara berlangsung cuacanya cerah.

Siang hari

Keluarga mulai berdatangan, membawakan kue, buah dan segalarupa yang mereka bisa bawa untuk menjadi buah tangan. Terimakasih semua yang sudah membantu dan bersedia direpotkan.

Karena acaranya sesudah ashar, jadi siang hari kami sudah mempersiapkan segalanya.

bungkusin kue

Ketika tadi pagi ke pasar, terbersit ide untuk membuat rujak buah dan belilah buah-buahan seadanya di pasar. Padahal seadanya, tapi jadinya satu baskom..hahaha. Kalo ngerujak rame-rame kan seru 😀

Aku juga jahil, sengaja mengulek bumbu yang super pedas. Seingatku cabe mercon 17 buah. Siapa yang duluan ke kamar mandi, itu yang kalah 😛

rujakan

kepedesan

rujakan

rujakan

Sore hari

Kerena lelah dari pagi, aku sempat tertidur hingga waktu ashar tiba. Karena pengajian habis ashar, alhasil aku gak mandi sore, karena gak mau ketinggalan pengajian, tapi dijamin tetap wangi koq 😀

Aku gak sempat memfoto ibu-ibu pengajian, karena aku turut serta dalam pengajian itu. Kami membagi-bagikan Buku Yasin yang kami cetak sebagai kenang-kenangan untuk para tamu yang hadir. Buku Yasin tersebut tidak menggunakan foto ayah, karena Pak Ustad melarang hal tersebut. Aku juga lupa kenapa alasannya. Yang jelas untuk pembaca jika ingin membuat juga lebih baik tidak menggunakan foto almarhum/almarhumah.

cover yasin

Tampak Depan Buku Yasin

buku yasin

Ada nama Istri, Anak, Menantu & Cucu

Narsis setelah selesai pengajian. Aku dan para sepupu, mirip gak? :O

narsis bareng

Om Totong, Arie, Kirana, Bunga, Isma, Nana, Memey, Aku

a y a h

Aku memang tidak terlalu dekat dengan ayah, walau banyak orang bilang wajahku sangatlah mirip dengannya. Foto-foto di bawah ini hanya untuk mengenang beliau.

Acara Resepsi Pernikahan Mas Panji

ibu, aku, ayah

Mau Pulang Kampung ke Malang karena Kakanya Ibu Meninggal. Ayah keliatan senang sekali, karena udah lama banget tidak pulang kampung, tepatnya sejak beliau sendiri stroke.

Sumringah 🙂

Selapanan Cukur Rambut Memey

Lebaran Idul Fitri 2012

di Ruang Tamu

*Dilarang mencopy foto tanpa ijin*

Rabu, 17 Oktober 2012

Hari itu adalah hari dimana aku dan keluargaku kehilangan ayahanda tersayang untuk selamanya.

Minggu, 14-10-12

Pagi ini kami berencana untuk berbelanja keperluan penikahan kakak ketigaku.

 Malamnya (Sabtu, 13-10-12) ketika kami harus pergi untuk melamar sang calon pengantin. Ayah meminta ijin, karena tidak bisa ikut hadir dalam acara tersebut dan lebih memilih beristirahat di rumah. Sakitnya memang hanya terlihat remeh dari luar. Awal mulanya adalah ketika beberapa minggu yang lalu beliau mencabut semacam kapalan (mata ikan) di bagian bawah jempol kaki kanannya, dan ternyata berlubanglah di bagian itu, akhirnya membengkak dan mengeluarkan darah . Aku dan semua kakakku (kami 4 bersaudara) sudah berulang kali membujuknya untuk pergi ke dokter dan mendapat pengobatan untuk lukanya tersebut. Tetapi beliau memang keras kepala dan bersikeras bahwa hal itu akan sembuh dengan sendirinya. Sebelum kami pergi, ayah sempat memintaku untuk membelikannya obat pereda nyeri. Ibu bilang kalau malam itu ayah seperti resah dan tidak bisa tidur, beliau bolak-balik ke kamar mandi dan meminum obat itu setiap hampir satu jam sekali 😦

Dan pagi ini beliau meminta untuk diantarkan ke Rumah Sakit terdekat. Pergilah kami (ayah, aku, mamasku yg kebetulan membawa kendaraan pribadi, kakak ketiga, dan ibu) ke RSUD terdekat dengan rumah. Sampai di Rumah Sakit, kami langsung menuju IGD. Ibu menuju tempat pendaftaran dan ayahpun segera diperiksa oleh perawat. Kamipun bertanya apa yang harus dilakukan dengan luka tersebut? Dilakukanlah beberapa pemeriksaan, seperti cek darah berkali-kali, CT Scan, Infus, Obat. Dan dokter menyatakan bahwa ayah mengidap gula dengan kadar yang sangat tinggi, hingga alat pengecekanpun tidak mampu mengukurnya (itu kata perawat)*IniBukanLebayTapiFakta*Meskipun ayah sudah sejak tahun 2006 terkena stroke, tapi dari dulu ayah tidak mengidap gula. Bagian tubuh sebelah kanan ayah yang terserang, tapi beliau tetap bisa berjalan, walau tidak senormal dan sekuat orang sehat.

Dokter bilang, ayah harus di rawat di Rumah Sakit. Belum sampai disitu, kami masih dibuat pusing karena Rumah Sakit kehabisan kamar *BanyakOrangSakit-_-* dan kami harus merujuk ke Rumah Sakit lain. Tapi ternyata rumah sakit yang kami rujukpun tidak memiliki kamar kosong. Dan pergilah kami ke Rumah Sakit ketiga, alhamdulilah di sana banyak kamar kosong. Sampai-sampai satu kamar cuma ada ayah sendiri saja. Tidak terasa hari telah larut, kakak lelakiku menginap, aku dan ibu pulang istirahat di rumah, agar besok bisa bergantian menjaga.

 

Senin, 15-10-12

Sore ini aku dan mamas berkunjung ke RS, menanyakan kabar ayah. Beliau tidak tampak seperti orang sakit.

Ibu bercerita bahwa dokter memutuskan untuk mengamputasi bagian kaki yang telah terjangkit diabetes tersebut. Dan dokterpun memberitahukan hal tersebut langsung di depan ayah.

Banyak masukan yang datang, agar kami mencoba obat herbal, mencoba ini, mencoba itu, tapi tidak kami lakukan. Karena kami pikir itu sudah terlambat dan percuma, karena sebagian telapak kaki ayahpun mulai membiru dan tercium bau yang sedikit menyengat di hidung. Kami pikir itulah akar penyakitnya dan jika itu tidak segera dihilangkan akan berakibat mejalar keseluruh bagian tubuhnya, dan kami tidak menginginkan itu. Kamipun menyetujui saran dokter dan dokter memutuskan akan mengoperasi kaki ayah hari rabu. Kami hanya ingin ayah sembuh 🙂

Ketika kami sedang berdiskusi, ayah bergurau dengan berkata “heh..pada kaya dokter aja”. Otomatis kita semua tertawa. Disaat seperti itupun beliau masih bisa bercanda, dari dulu selera humor ayah memang bagus 😀

 

waktu di RS sempet ngambil foto 😀

 

Selasa, 16-10-12

Kabar ayah dirawat di Rumah Sakitpun sudah terdengar oleh saudara, tetangga, kerabat, dan teman kami. Siang hari mulai dari tante, om, tetangga, bergantian datang menjenguk ayah di Rumah Sakit. Malamnya pun teman-temanku menjenguk, maryam & erik (Mereka tidak singgah lama karena meninggalkan baby adam di rumah), yanti & iyos *TerimakasihBanyakKawan|peluk*.

Ayah hanya makan sedikit sekali sejak awal masuk Rumah Sakit, tidak seperti di rumah yang selalu lahap tiap kali makan. Saat teman-temanku datang, aku sedang menyuapi ayah. Tapi hanya satu suap yang masuk ke dalam mulutnya, itupun harus mengunyah kurang lebih antara sepuluh atau limabelas menit lamanya. Ayah yang selalu mudah jika minum obat, saat itu kesulitan untuk menelan obatnya. Hingga ayah tersedak, obat itu masih utuh dimulutnya dan ahirnya dikunyahlah obat itu.  Aku sedih dan iba, merasa tidak bisa merawat orang tua 😦

Saat itu sekitar pukul delapan malam. Perawat membersihkan luka dan mengganti perban di kaki ayah. Sesaat setelah itu jarum infus di tangan ayah bengkok dan kamipun meminta untuk diganti. Perawat datang dan berusaha mencari nadi ayah untuk menusukan jarum infus kembali. Tapi kami melihat mereka kesusahan mencarinya, bahkan telah dicari hampir diseluruh bagian tubuh. Kami tidak tega melihat ayah ditusuk jarum sana-sini, akhirnya kami memutuskan agar perawat bisa kembali lagi nanti. Agar ayah bisa beristirahat dahulu (mungkin terlalu tegang, hingga nadipun tidak ditemukan)Kami juga bertanya kepada perawat, pukul berapa besok ayah dioperasi. Mereka mengatakan pukul sembilan pagi, dan tengah malam ini ayah sudah harus berpuasa.

Hari semakin larut. Akupun mengajak ibu untuk pulang dan beristirahat di rumah, agar besok bisa punya tenaga untuk menunggu ayah dioperasi. Tapi ibu bilang, akan pulang jika infus ayah sudah dipasang kembali. Maka aku pun mengikuti kemauan ibu.

Tiba-tiba keadaan ayah memburuk. Beliau susah untuk bernafas, terus mendengkur. Aku memegangi tangannya, mengusap kepalanya, mencium keningnya, membimbingnya untuk istighfar, berusaha memberikannya semangat. Beliau berusaha berbicara dan berkata “susah ngomong”.. Ditengah nafasnya yang terengah-engah beliau berkata kembali padaku “kasih semangat”..

Dan aku memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di Rumah Sakit malam itu.

 

Rabu, 17-10-12

Tengah malam. Keadaan ayah semakin memburuk. Nafasnya semakin sulit dan terus mendengkur, bahkan lebih keras dan mengkhawatirkan. Kami memanggil dokter, dokterpun segera memberi penanganan. Ayah diberikan suntikan, lalu diberikan oksigen di hidung. Tapi ayah terus berusaha melepaskan oksigen di hidungnya tersebut (mungkin karena tidak nyaman). Kakak pertama yang tadinya berada di rumahpun datang. Memegangi tangan ayah dan berusaha mengajaknya berbicara. Tapi tidak sepatah katapun dikatakan, hanya nafas yang terengah-engah saja yang terdengar. Hingga satu kalimat terucap dan membuat suasana mencekam. Ayah berkata “mbah datang”..Mbah adalah ibunya ayah yang sudah lebih dulu dipanggil sang pencipta, kurang lebih sudah setahun yang lalu, tepatnya di bulan sembilan.

Ayah kembali mendengkur, akhirnya dokter mengganti oksigen hidung, dengan oksigen yang menutup mulut dan memberikan suntikan obat ke dalam kantung oksigen tersebut.

Ibu terlihat kalut dan menelepon sanak saudara karena keadaan ayah dinyatakan kritis. Dua orang adik ayahpun bergegas datang ke Rumah Sakit (Tante enci & ari anaknya, Om totong beserta istri & anaknya).

Sesaat dengkuran itupun hilang, tapi ayah mengeluarkan cairan dari mulutnya. Dokter bilang itu karena proses penguapan oksigen tadi dan meminta bantuan untuk memiringkan tubuh ayah, agar cairan tersebut mudah dikeluarkan. Dan dokterpun memutuskan untuk memindahkan ayah ke Ruang ICU, untuk dapat perawatan yang lebih intensif. Suasana makin larut akan kesedihan, semua orang menangis, bahkan perawatpun ikut meneteskan air matanya.

Allah berkata lain. Saat kami terus memiringkan tubuh ayah, nampak beliau menghela nafas yang tersisa dan terakhir untuknya. Ternyata saat itulah beliau meninggalkan kami semua. Dokterpun segera memeriksa nadi ayah dan menyatakan bahwa ayah telah tiada.

Saat itu aku lihat jam menunjukan pukul setengah dua dini hari. Tangisanpun meramaikan malam yang sunyi itu.

  

Kagum..Kata itulah yang keluar dari lubuk hatiku mengiringi kepergian ayah. Kali ini aku mengakui bahwa beliau adalah orang tua yang sangat luar biasa hebat, menahan rasa sakit yang begitu lama, tanpa kata mengeluh sakit sekalipun. Aku menyanyangimu ayah, walau kata itu tidak pernah aku ucapkan langsung kepadamu dan aku yakin engkau mengetahuinya di sana 🙂

 

pemakaman ayah

Yang pegang payung Tante Ratmi, baju pink Bunga anaknya, lelaki berpeci kakak kedua, kerudung coklat Ibu, kerudung hitam Aku